Ketika persoalan pendidikan telah di perlakukan sebagai komoditas, maka seluruh aspek ideologi pendidikan menjadi bernuansa kapitasiltik. Persepsi tentang pendidikan berkualitas hanya dapat di raih dengan biaya yang besar, sudah menjadi milik para orang tua saat ini. Lalu apa yang seharusnya dilakukan?..., yaitu dengan bergabung pada komunitas kampoeng belajar ini sehingga kita dapat mencari solusi yang lebih baik dimasa yang akan datang.

SELAMAT DATANG DI SITUS KOMUNITAS KAMPOENGBELAJAR -- "BERSAMA MEMBANGUN PARADIGMA BARU DUNIA PENDIDIKAN"

 

e-learning Gallery Berbagi Karya Institusional

Menu Login

Halaman Utama Rubrik Berita Tokoh dan Tauladan Putra Aceh masuk 10 besar tokoh Pendidikan Indonesia
Putra Aceh masuk 10 besar tokoh Pendidikan Indonesia
Penilaian User: / 1
TerburukTerbaik 
Minggu, 21 Juni 2009 03:14
Universitas Syiah Kuala kembali membanggakan rakyat Aceh. Rektornya, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA dinobatkan sebagai tokoh pendidikan Indonesia. Tak tanggung-tanggung, dia masuk katagori 10 besar dari 100 tokoh pendidik di negeri ini.

Penobatan itu dilakukan sebuah lembaga independen yang memberi pernilaian untuk pendidikan, dosen, tokoh masyarakat, dermawan, dan pioner yang telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan pendidikan Indonesia.

Hasil perangkingan tersebut yang dirilis oleh Majalah Campus Asia Edisi November-Desember 2008, menempatkan Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Darni M. Daud, MA (foto) pada rangking ke-10 (82,3), setelah Rektor UI (88,7), ITB dan UGM (88), ITS (87,3), Unpad dan Unhas (86,7), USU (85,3), serta Rektor UIN dan Unair (84,3). Urutan berikutnya sampai rangking ke-16 berturut-turun adalah Rektor Udayana, Unibraw, UPI, Unsri, UII, dan Undip.

Kalau dilihat urutan tersebut ada yang memiliki skor yang sama. Rektor ITB sama dengan UGM, Rektor Unpad sama dengan Unhas, dan Rektor UIN sama dengan Unair. Dengan demikian Rektor Unsyiah berada pada peringkat ke-7.

Rentang skor untuk menentukan rangking adalah 0-100, yang terdiri atas delapan indikator dengan skor masing-masing berbeda. Indikator yang digunakan adalah (1) kemampuan menguasai dan mengembangkan ilmu; (2) prestasi dalam bidang yang ditekuni; (3) perkembangan bakat dan keterampilan; (4) kepemimpinan, perilaku dan bakat; (5) memberdayakan masyarakat untuk belajar; (6) keterkenalan pada taraf internasional; (7) kontribusi terhadap pelayanan sosial; dan (8) integritas dan peran keteladanan di dalam masyarakat.

Menurut publikasi CampusAsia tersebut, survei awal dilakukan dengan mengambil 500 tokoh pendidikan dengan latar belakang dan institusi berbeda, yaitu pejabat dan mantan pejabat pemerintahan, universitas negeri dan sawasta, kalangan intelektual, pelaku bisnis, dan masyarakat umum. Dari 500 tokoh tersebut kemudian diseleksi sehingga keluar 100 tokoh pendidikan nasional.

Makna Institusional
Menurut Darni M. Daud ketika ditanya tentang penghargaan ini, secara umum mempunyai dua makna, yaitu bagi pribadi dan lembaga. Bagi dirinya capaian ini merupakan trust (kepercayaan) yang membahagikan sekaligus tantangan yang menuntut kerja lebih giat ke depan. Juga harus dilihat bahwa ini merupakan hasil kerja kolektif di jajaran Unsyiah. “Tanpa bantuan teman saya tak akan mungkin mencapai prestasi ini,” katanya.

Secara kelembagaan, prestasi ini membuktikan bahwa Unsyiah semakin meningkat kemampuannya dalam melaksanakan fungsinya sebagai institusi publik yang bergerak dalam pendidikan. “Ini juga mengundang tantangan ke depan bagaimana Unsyiah ini terus mampu meningkatkan kualitasnya, sekaligus meningkatkan kepercayaan. Kualitas yang kita maksudkan di sini secara menyeluruh, dosen, staf administrasi, dan mahasiswa,” kata Darni M. Daud dalam wawancara khusus di kediamannya.

Menurut Darni M. Daud, prestasi ini bagi pribadi hanya sebatas kebahagiaan dan kebanggaan belaka. Tapi bagi Unsyiah sebagai institusi jauh lebih penting. Di Sumatera hanya Rektor USU dan Unsyiah saja yang masuk 10 besar. Artinya prestasi ini diperoleh atas nama rektor. Karena itu secara institusional Unsyiah harus lebih baik lagi ke depan. Siapa pun yang menjadi rektor nantinya. “Saya kan tidak selalu menjadi rektor, akan diteruskan oleh orang lain hingga ke anak cucu kita,” tegasnya.

Hebat Tapi Lemah
Ditanya pandangannya terhadap program pendidikan di Aceh, lulusan Oregon State University, New York ini mengatakan, program yang dirancang sudah bagus, tinggal lagi implementasinya. Bangsa lain mengakui bahwa dalam masalah gagasan dan ide yang dituangkan dalam program, kita sangat hebat. Namun kita sering tidak mampu mengimplementasikan program tersebut dengan baik. “Artinya di satu sisi kita hebat, tapi pada sisi lain kita masih lemah,” katanya.

Realita ini disebabkan paradigma shorten minded di kalangan pengambil kebijakan. “Kita sering memecahkan masalah dalam kerangka jangka pendek, padahal program pembangunan apapun harus dirancang melampaui lintas waktu yang panjang dan sustainable,” katanya.

Aceh sekarang uang banyak, tinggal bagaimana menggunakan uang itu secara adil. “Adil bukan berarti dibagi rata, tapi harus menurut porsi tertentu yang didasarkan pada prestasi yang dibuat oleh individu atau lembaga,” katanya. Misalnya sekarang ada bantuan untuk pesantren, lalu ramai-ramai mendirikan pesantren sehingga dana yang diperoleh kecil. “Akan lebih baik kalau dana itu diberikan untuk beberapa pesantren yang berkualitas.

Dana diberikan karena prestasi, bukan asal ada nama dapat bantuan, yang kadangkala fungsinya tidak dilaksanakan dengan baik. Cara ini mendorong orang berlomba berbuat yang terbaik,” katanya seraya menambahkan kita bukan apriori terhadap kehadiran lembaga pendidikan ini.

Hal serupa juga berlaku untuk pemberian beasiswa. Beasiswa diberikan kepada mereka yang berprestasi, bukan karena faktor berani bersuara lantang dan meminta dengan cara-cara yang tidak benar.

“Dengan demikian anak peserta didik akan berlomba untuk mengukir prestasi. Ini yang harus dikedepankan, sebab dengan cara inilah akan lahir generasi yang berkualitas di mada datang,” katanya.

Cara ini penting, karena dengan cara ini kita telah melakukan usaha menumbuhkembangkan masyarakat belajar (learning society). Masyarakat di sini bermakna luas. Bagi dosen mau ke perpustakaan, berdiskusi, melakukan kajian, dan mengikuti bermacam kegiatan ilmiah sebagai tempat belajar. Mahasiswa dan siswa sekolah mau belajar untuk meraih prestasi. “Sekarang kita lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi, ketimbang belajar,” tegasnya.

Dana besar juga tak ada artinya kalau tidak digunakan dengan baik. Kita tak perlu malu mengakui bahwa sebagian besar dana digunakan untuk program bernuansa proyek. “Saya sering mengeritik kebiasaan ini,” katanya.

Membangun daerah
Berbicara peran Unsyiah terhadap pembangunan Aceh, Darni M. Daud mengatakan akan melakukan kerjasama dengan Pemkab/Pemko. Masing-masing daerah dengan potensi berbeda kita ajak merumuskan sumber daya manusia yang terampil dan keahlian bidang apa yang diperlukan. Jika di Simeulue butuh sarjana kelautan, kita minta Pemda mengirim putra-putri daerah itu untuk belajar bidang kelautan di Unsyiah. Tapi proses seleksi tetap dilakukan.

“Setelah mereka selesai menempuh pendidikan, kita suruh pulang ke kampung halaman untuk menggarap potensi daerah masing-masing. Jangan hanya numpuk di kota sehingga mengakibatkan tidak meratanya ketersediaan sumber daya manusia,” katanya. Untuk mendukung itu Unsyiah telah membuka university farm di beberapa daerah. University farm ini disesuaikan dengan potensi daerah tersebut. Di sini akan dilakukan kajian-kajian ilmiah berkaitan potensi daerah tersebut.

sumber : www. visitaceh.com
 


design by www.kampoengbelajar.org